• PESANTREN MADINAH MUNAWWARAH
  • Darul Fiqhi wa Da'wah

Pentingnya Adab Bagi Penuntut Ilmu

Sayyidina Umar Ra memberikan nasihat bahwasanya “Belajarlah untuk mengkaji agama dan jika engkau belajar agama maka belajarlah untuk tenang dan berwibawa, serta santun”. Nasihat ini ditunjukan agar jangan sampai seseorang menghadiri suatu majelis ilmu dengan tidak beradab dan tidak sopan. Sebab hal tersebut menjadikan kurang keberkahan yang didapatnya. Nasihat Sayyidina Umar selanjutnya berbunyi “Jika engkau belajar agama maka bersikapkah rendah hati kepada orang yang mengajarimu, dan orang yang telah kau jadikan sumber ilmu bagimu maka kau harus kau memuliakanya”.

Maksud nasihat diatas dapat dilakukan seseorang seperti dengan berkhidmah, membantu hajatnya, serta ketika bertemu mendahului salam kepadanya. Inilah adab-adab mencari ilmu. Jangan sampai seseorang terhadap guru kurang beradab. Apabila tidak beradab seorang penuntut ilmu, maka berkah ilmu akan berkurang atau bahkan hilang. Mengapa? Sebab inti dari segala berkah berawal dari adab. Apabila hilang adab akan hilanglah keberkahan.

Sebagaimana para kyai jaman dahulu, mereka teliti akan masalah adab. Sampai-sampai seorang santri tatkala mengunjungi ulama saat mereka hendak pamit maka tiada keberanian mereka untuk berdiri saat undur diri. Para santri jaman dulu berpamit dengan cara berjalan jongkok mundur. Begitu pula sebaliknya jika mereka hendak menghadap, yakni dengan berjalan jongkok kedepan. Salah satu adab santri lainnya yakni mereka berdiri diam ketika ada seorang guru lewat dihadapannya. Ini semua merupakan upaya santri memuliakan sang guru. Sebab dari memuliakan guru tersebut diharapkan seorang santri dapat menanjak memuliakan Allah SWT, dan itulah tujuannya. Dengan berusaha memuliakan yang terlihat maka lama-lama akan memuliakan yang tidak terlihat. Para santri hendaknya memahami ini dengan belajar. Meskipun seorang santri belum bisa maksimal dalam beradab, setidaknya tetap selalu belajar beradab meskipun sedikit demi sedikit. Minimal saat di suatu majelis talim hendaknya jangan mengobrol ramai-ramai dan berusaha menghadirkan hati yang fokus dengan ilmu yang disampaikan, sehingga dapat mendengar dengan benar dan mendapat sirr (rahasia) dan nur (cahaya) dari ilmu yang Allah kirimkan ke majelis tersebut.

 

Oleh : M Ragil Yoga Priyangga

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Kebermanfaatan Sebagai Bukti Cinta Rosulullah

Bismillahirrohmanirrohim, memulai apapun dengan awalan basmalah. Menggerakkan setiap anggota tubuh kita harus diawali dengan basmalah, agar apa? Agar keberkahan atau kebaikannya tidak t

13/11/2020 16:10 - Oleh Admin PMM - Dilihat 428 kali
Menyenangkan Hati Nabi Dengan Menjunjung Tinggi Adab dan Akhlaq di Masa Kini

“Alangkah indahnya hidup ini, Andai dapat kutatap wajah-Mu, Kan pasti mengalir air mataku, Karena pancaran ketenangan-Mu.”  -Syair Habib Syech- Sudah kebayang bukan n

06/11/2020 10:19 - Oleh Admin PMM - Dilihat 413 kali
Sebagai Santri Milenial, Masihkah Harus Meneladani Sunnah Nabi?

Jika dihitung sejak Nabi menghembuskan nafas terakhir hingga hari ini, waktu telah berjalan sebegini jauhnya, bumi sudah sebegini tuanya, hitungan jari tak lagi mencukupi, bila kita iba

01/11/2020 14:16 - Oleh Admin PMM - Dilihat 342 kali
Siwak, Sunnah Nabi yang Hampir Terlupakan

Sampai detik ini mungkin masih ada orang yang asing dengan siwak. Padahal siwak ini adalah sunnah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi dan para sabahat serta ulama-ulama salaf, kare

22/10/2020 16:38 - Oleh Admin PMM - Dilihat 442 kali