• PESANTREN MADINAH MUNAWWARAH
  • Darul Fiqhi wa Da'wah

Mengenal Lebih Dekat #1: Shohibur Ratib Al Haddad

Hizib atau wirid yang masyhur di kalangan masyarakat luas maupun santri salah satunya adalah Ratib Al Haddad atau Ratibul Haddad. Lalu siapakah sebenarnya ulama dibalik Ratib Al Haddad? Al Haddad sendiri merupakan nama penyusun dari Ratib tersebut, yakni al Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad al Haddad. Ratib al Haddad disusun berdasarkan inspirasi, pada malam lailatul Qodar 27 Ramadan 1071 H. Menariknya Ratib ini disusun atas permintaan salah seorang murid beliau yang bernama Amir dari keluarga Bani Sa’ad. Tujuan Amir meminta Habib Abdullah untuk mengarang Ratib adalah agar diadakan wirid dan dzikir di kampungnya yang berada di Kota Syibam, agar mereka dapat mempertahankan dan menyelamatkan diri dari ajaran sesat yang sedang melanda Hadramaut ketika itu.

Al-Imam al-Allamah Habib Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad dilahirkan di pinggiran Kota Tarim, sebuah kota terkenal di Hadramaut, pada malam hari, 5 Shafar 1044H, dan dibesarkan di kota tersebut. Ayahandanya adalah as-Sayyid ‘Alawi bin Muhammad Al-Haddad. Di bawah bimbingan ayahandanya inilah beliau memperoleh pelajaran al-Qur’an dan menghafalnya, di samping mendalami ilmu-ilmu lainnya. Kendati telah kehilangan pengelihatan mata sejak beliau berumur 4 tahun karena penyakit cacar, beliau dikenal sebagai seorang tokoh sufi besar dan alim. Dari sini kita mendapat pelajaran, beliau hanya buta mata dzahirnya, sedangkan mata bathinnya tetap awas, yang kebanyakan orang bahkan buta disaat matanya mampu melihat.

Semenjak kecil, al-Habib Abdullah al-Haddad telah termotivasi untuk menimba ilmu dan gemar beribadah. Tentang masa kecilnya, al-Habib Abdullah berkata: “Jika aku kembali dari tempat belajarku pada waktu Dhuha, maka aku mendatangi sejumlah masjid untuk melakukan shalat sunnah seratus rakaat setiap harinya.” Kemudian untuk mengetahui betapa besar kemauan beliau untuk beribadah di masa kecilnya, al-Habib Abdullah sangat gemar dan bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mujahadah, neneknya seorang wanita shalihah yang bernama asy-Syarifah Salma binti al-Habib Umar bin Ahmad al-Manfar Ba’alawi berkata: ‘Wahai anak kasihanilah dirimu.’ Beliau mengucapkan kalimat itu, karena merasa kasihan kepadaku ketika melihat kesungguhan Imam Al Haddad dalam ibadah dan bermujahadah.

Imam Al Haddad merupakan ulama yang sangat produktif menulis dan menghasilkan banyak kitab diantaranya Risalah Adab Suluki al Murid, Risalah al Mu’awanah, Kitab Al Hikam dan yang tidak kalah masyhur adalah rangkaian dzikir Wiridul Lathif. Sebenarnya masih banyak karya lain beliau yang bukan hanya menggugah spiritual, tetapi juga membuka pemahaman yang baru mengenai hubungan antara agama dan masyarakat. Ketinggian pemahaman Habib Abdullah akan realitas masyarakat di atas menggambarkan bagaimana sosok Habib Abdullah dengan wejangan-wejangannya mampu mengorek moralitas manusia yang mengalami dekadensi moral. Lebih jauh, perihal hubungan ulama dan penguasa Habib Abdullah kurang lebih berkata, “tidak akan rusak sebuah masyarakat pada agama mereka kecuali para ulama, hal ini setelah rusaknya agama para ulama mereka. Dan juga tidak akan rusak sebuah masyarakat di dunia kecuali para penguasa, hal ini setelah rusaknya dunia mereka. Maka dengan rusaknya ulama, agama akan rusak dan dengan rusaknya para penguasa, dunia pun akan rusak.”

Ulama yang dimaksud oleh Habib Abdullah adalah ulama yang su’ (buruk). Di mana seorang yang ‘alim berbicara kecuali untuk mengambil muka orang lain dan tidaklah orang bodoh yang mendengarkannya karena semuanya tenggelam dalam mencari dunia.’ Namun demikian, di antara masyarakat itu ada saja orang-orang yang memanfaatkan agama sebagai kepentingan politik yang kerap dipolitisasi dengan membabi buta misalnya, adalah fatwa yang diperlakukan sebagai kebenaran mutlak. Padahal persoalan yang dibahas sebatas masalah politik praktis.

Selama hidup, beliau habiskan waktunya untuk belajar dari ulama satu ke ulama lainnya. Diantara guru-guru beliau adalah Umar bin Abdurrahman al-'Aththas, Abdullah bin Syaikh Maula 'Aidid, Sahl bin Ahmad Bahasan al-Hudaili Ba'alawi yang merupakan ulama Mekkah. Hingga akhirnya beliau wafat di Tarim pada Senin Malam Selasa tanggal 7 Dzulqa’dah 1132 H (10 September 1720 M) dan di makamkan di pemakaman Zambal di kota Tarim, Hadhramaut Yaman pada usia 86 tahun. Karena kealiman beliau, beliau mendapat gelar Syaikh al-Islam, Quthb ad-Da'wah wa al-Irsyad dan dikenal sebagai Pembaharu Tarekat Alawiyyah serta memiliki murid-murid yang di masa selanjutnya menjadi ulama besar diantaranya Al-Habib Hasan bin Abdullah Al-Haddad (putera beliau sendiri), Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi, Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, Al-Habib Umar bin Zain bin Smith, Al-Habib Muhammad bin Zain bin Smith, Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Bar, Al-Habib Ali bin Abdullah bin Abdurrahman As-Segaf, Al-Habib Muhammad bin Umar bin Thoha Ash-Shafi As-Segaf, dan masih banyak lagi murid-murid beliau. Bahkan ada pula ulama besar Indonesia yang berguru dengan Imam Al Haddad yaitu Syekh Yusuf Al Makassari.

Semoga Allah merahmati Imam Al Haddad dengan rahmat yang teramat luasnya dan meridhoinya serta memberi kita manfaat dan barokah beliau serta ilmu-ilmu beliau di dunia dan akhirat juga merahmati Abah Yahya Al Mutamakkin yang selama ini selalu menyebut-nyebut nama Imam Al Haddad dalam majlis ta’lim sehingga para santri dapat mengenal yang kemudian diharapkan dapat meneladani ibrah Imam Al Haddad. Semoga Allah mengumpulkan kita dan keluarga kita bersama beliau serta guru guru kita semua. Amin.

 

(Vicki Mubarok)

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Tausiah K.H. Yahya Al Mutamakkin

Apakah di hati kita ada cinta nabi Muhammad? Sesungguhnya cinta Rasulullah kepada kita lebih besar. Tidaklah seseorang dari kita memiliki cinta kepada Nabi Muhammad, kecuali Nabi sudah

01/11/2020 15:06 - Oleh Admin PMM - Dilihat 875 kali
Tausiah Virtual Sayyid Umar bin Zein bin Smith

Diterjemahkan oleh : Habib Jafar Shodiq Al Munawwar Saat ini (perayaan maulid akbar di Masjid Raya al Muhajirin 29 Oktober 2020) kita sedang berada didalam naungan rahmat dan kasih say

30/10/2020 15:57 - Oleh Admin PMM - Dilihat 869 kali
Kesungguhan Menuntut Ilmu

Bersumber dari Habib Zein bin Sumaith dalam kitab Manhajussawi, dikatakan bahwa ilmu tak dapat diraih kecuali dengan kesungguhan. Ketahuilah sesungguhnya semakin bertambah mulia sesuatu

18/10/2020 15:50 - Oleh Admin PMM - Dilihat 424 kali