• PESANTREN MADINAH MUNAWWARAH
  • Darul Fiqhi wa Da'wah

Kebermanfaatan Sebagai Bukti Cinta Rosulullah

Bismillahirrohmanirrohim, memulai apapun dengan awalan basmalah. Menggerakkan setiap anggota tubuh kita harus diawali dengan basmalah, agar apa? Agar keberkahan atau kebaikannya tidak terputus tentunya. Memulai apapun dengan membaca basmalah juga bisa menjadi salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk meneladani suri tauladan kita, Nabi Muhammad ﷺ. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam Al-Jami’, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya “Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.” Oleh sebab itu mulailah semua gerak dengan basmalah.

Kita sering mengaku cinta kepada Nabi kita, Nabi Muhammad ﷺ, namun kenyataannya cinta kita hanya sebatas dengan lisan. Sudahkah kita benar-benar mengikuti syariat Rosul? Mengikuti akhlak beliau yang penuh rahmat? Padahal tahukah kita bahwa cinta Rosul begitu besar pada kita sebagai pecintanya? Hingga gunung uhud yang terbentuk dari batu yang begitu keras saja dapat merasakan indahnya jatuh cinta pada Rosulullah. Lantas bagaimana dengan kita? sudahkah kita mencoba untuk membuktikan rasa cinta kita pada beliau? Bagaimana caranya?

Membuktikan cinta kepada Rosulullah ﷺ dapat kita lakukan dengan meneladani akhlak beliau yang begitu mulia. Meskipun kita tidak bisa meniru dengan sempurna tentunya. Banyak sekali hal yang dapat kita teladani dari manusia mulia yang diutus sebagai usawatun hasanah ini, salah satunya ialah tentang bagaimana beliau menebar manfaat diseluruh alam semesta.

Kebermanfaatan, satu kata yang sederhana namun sering kita lupakan. Jika dihadapkan pada dua pilihan, sudah pasti kita akan memilih untuk melakukan suatu hal yang secara nyata dan jelas akan memberikan keuntungan yang banyak, terutama untuk diri kita sendiri. Pernahkah kita menjadikan kebermanfaatan sebagai tolak ukur pilihan kita? Kebermanfaatan yang bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk siapapun dan apapun di sekitar kita. Nampaknya, hal tersebut masih jarang menjadi pertimbangan yang penting. Namun, akan berbeda apabila yang melakukan sesuatu hal tersebut adalah seorang santri. Apa yang berbeda dari santri? Sebelum mencari dan menemukan jawabannya mari terlebih dahulu kita telisik makna darti kata santri itu sendiri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata santri memiliki dua makna, yaitu orang yang mendalami Agama Islam, dan orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh. Sedikit banyak sudah cukup menggambarkan sosok diri seorang santri. Orang yang mendalami Agama Islam, agama Islam sendiri tidak muncul begitu saja, namun Agama Islam dibawa dan diajarkan oleh seorang manusia yang paling mulia di seluruh alam semesta, Baginda Muhammad ﷺ. Seorang Nabi yang diutus menjadi rahmat bukan hanya untuk umatnya saja, namun untuk seluruh alam semesta. Rosul Allah yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, sebagai teladan terbaik bagi umat manusia.

Seorang santri yang belajar mendalami Agama Islam, dipandang memiliki pemahaman agama yang lebih baik dibanding dengan orang awam, terutama dalam mengenal sosok sang pembawa syariat, sang suri tauladan bagi umat Islam. Seorang santri yang telah belajar untuk mengenal Rosulullah tentulah akan menjadikan aspek kebermanfaatan sebagai salah satu aspek penting ketika mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu. Mendasari aktivitasnya dengan tujuan agar apa yang mereka lakukan dapat membawa manfaat. Manfaat yang dapat dirasakan bukan hanya untuk dirinya. Manfaat yang walaupun sedikit namun mampu dirasakan oleh banyak orang. Mengapa kebermanfaatan? Kembali lagi pada hakikat santri yang telah belajar mengenal Rosul sebagai suri tauladan terbaik, pasti tidak asing dengan salah satu sabda beliau, 

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ          

Artinya :

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ No:3289).

Apalagi jika santri tersebut menyandang status ekstra, seperti status mahasiswa misalnya atau lebih akrab disebut dengan mahasantri (mahasiswa sekaligus santri). Seorang mahasantri dalam setiap keputusan yang diambil seharusnya tidak boleh lepas dari kata kebermanfaatan. Terutama berkaitan dengan ilmu yang mahasantri miliki. Banyak ilmu yang sudah mereka dapat dan miliki dari status yang disandang tersebut, baik ilmu dunia maupun akhirat. Namun, bagaimana membuat ilmu itu bermanfaat? Membuat ilmu tidak sekedar menjadi hiasan yang memenuhi lembaran kosong dalam buku catatan? Atau hanya menjadi obyek hafalan semata. Satu kata untuk sebuah jawaban, yaitu dengan diamalkan. Ya, ilmu akan bermanfaat apabila diamalkan. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan, sebaik-baiknya ilmu adalah yang diamalkan.

Terkadang kita terlalu takut dan ragu untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki. Karena apa? Karena merasa kurang alim, merasa belum wah, belum cukup ilmu. Padahal tidak perlu menunggu hingga menjadi alim hingga kita dapat mengamalkan ilmu yang kita miliki. Cukup amalkan ilmu yang sedikit itu agar kebermanfaatannya dapat dirasakan, tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain disekitar kita. Justru, ilmu walau sedikit namun diamalkan itulah yang akan mendatangkan keberkahan dan kebaikan yang lebih banyak, serta kebermanfaatan yang lebih besar daripada ilmu yang banyak namun tidak ada satupun yang diamalkan.

 Meneladani Rosulullah juga dapat berarti menghidupkan sunnah-sunnah beliau dalam setiap gerak tubuh kita. Sembari mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh sang Kholiq kepada kita dengan lahirnya sosok suri tauladan yang dengan perjuangan, kesabaran, dan kemuliaan beliau kita dapat merasakan indahnya, nikmatnya, manisnya dan lezatnya iman dan Islam.

Shollu ala nabi Muhammad...

 

Lilis Wijayanti, Santri Kitab Putri

Tulisan Lainnya
Pentingnya Adab Bagi Penuntut Ilmu

Sayyidina Umar Ra memberikan nasihat bahwasanya “Belajarlah untuk mengkaji agama dan jika engkau belajar agama maka belajarlah untuk tenang dan berwibawa, serta santun”. Nas

30/12/2020 22:37 - Oleh Admin PMM - Dilihat 4804 kali
Menyenangkan Hati Nabi Dengan Menjunjung Tinggi Adab dan Akhlaq di Masa Kini

“Alangkah indahnya hidup ini, Andai dapat kutatap wajah-Mu, Kan pasti mengalir air mataku, Karena pancaran ketenangan-Mu.”  -Syair Habib Syech- Sudah kebayang bukan n

06/11/2020 10:19 - Oleh Admin PMM - Dilihat 2338 kali
Sebagai Santri Milenial, Masihkah Harus Meneladani Sunnah Nabi?

Jika dihitung sejak Nabi menghembuskan nafas terakhir hingga hari ini, waktu telah berjalan sebegini jauhnya, bumi sudah sebegini tuanya, hitungan jari tak lagi mencukupi, bila kita iba

01/11/2020 14:16 - Oleh Admin PMM - Dilihat 2420 kali
Siwak, Sunnah Nabi yang Hampir Terlupakan

Sampai detik ini mungkin masih ada orang yang asing dengan siwak. Padahal siwak ini adalah sunnah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi dan para sabahat serta ulama-ulama salaf, kare

22/10/2020 16:38 - Oleh Admin PMM - Dilihat 3307 kali